Hari ini, tak indah buatku. Aku dan Anto akan berpisah untuk sementara waktu. Anto harus melanjutkan sekolah di Spanyol. Hidupnya memang beruntung, dia mendapatkan beasiswa S2 di sana. Aku tidak mau menghalangi keberuntungannya. Tapi jujur, memang tidak mudah, rasanya berat untuk berpisah dan kami hanya akan menjalani LDR (long distance relationship). Menurut beberapa orang, memang tidak sulit menjalani LDR, yang penting modal percaya dan jaga komunikasi. Buatku, rasanya agak sulit, aku adalah orang yang cukup intens berkomunikasi, baik melalui SMS atau menelepon. Ada rasa takut karena selama hampir lima tahun kami menjalani hari-hari bersama, walau tidak berarti di mana ada aku selalu ada Anto, aku dan dia kan juga punya kehidupan masing-masing. Namun, tetap saja, rasa sepi akan hadir di antara hari-hariku.
"Udah, kamu jangan sedih, kita kan masih bisa ketemu, yang penting kita saling percaya dan jaga kepercayaan satu sama lain," Anto menghiburku. Aku hanya terdiam di bangku saat menunggu Anto check in di bandara.
"Tapi kamu beneran nggak akan macem-macem?"
"Iya, sayang, kamu nggak percaya ya sama aku."
Aku tak menjawab, kaena jujur saja, aku memang sedikit ragu dengan janjinya. Lima tahun kami melalui berbagai perubahan ke arah yang lebih baik. Anto menginggalkan kebiasaan minum-minum dengan alasan kesehatan dan karena dia sayang aku. Tapi, aku jadi tidak yakin kalau dia akan menjauhi hal itu saat di Spanyol. Udara Eropa akan dingin, dan rasanya minuman beralkohol adalah alasan untuk menghangatkan badan.
"Hei, kamu kok bengong, aku udah hampir check in nih."
"Sayang, kamu jangan jadi orang lain ya saat kamu pulang nanti," pesanku.
"Iya, aku akan tetap aku."
Hari-hariku sepi. Awal kepergian Anto, aku merasa sangat sepi, maka kusibukkan diriku dengan berbagai kegiatan positif, seperti menulis blog, atau pergi ke daerah-daerah. Hubunganku berjalan baik, cukup baik, bukan sangat baik. Aku tidak mengatakan sangat baik karena memang ada hal yang berbeda. Biaya komunikasi tidak murah, jadi bicara terkadang seperlunya, rasanya tidak mungkin aku menelepon sesering mungkin cuma untuk bilang "udah makan belum?"
Aku berusaha keras untuk positif thinking, dan jujur saja ini tidak mudah. Aku di tanah air, tetap menjaga kepercayaannya. Aku tidak ingin mengkhianati dia.
* * * * *
Suatu malam yang dingin di Spanyol. Anto berada dalam sebuah penginapan teman dengan tujuan mengerjakan tugas kampus. Di lengkapi minuman beralkohol sebagai alasan penghangat tubuh. Akhir mengerjakan tugas, Anto berjalan ke apartemennya. Namun, ia tidak sendiri. Seorang wanita tinggi, putih, langsing, menemaninya di perjalanan. Wanita itu teman kampus Anto yang juga berasal dari Indonesia, yang mungkin hari-hari Anto di sana telah dihabiskan bersamanya. Malam dingin itu bersambung hingga hangatnya tempat tidur Anto. Mereka menghabiskan malam bersama layaknya orang dewasa yang diburu napsu. Keperjakaan Anto pun terbang terbawa malam dingin yang memanas.
* * * * *
Aku masih menghitung hari menunggu Anto pulang. Terkadang aku main ke rumahnya untuk mengobati rasa rinduku ke Anto, walaupun Anto tidak ada, tetapi bertemu dengan keluarganya membuatku senang. Lumayan untuk mengobati rasa rindu.
Aku lihat kalender, dan aku senang karena Anto akan pulang dalam waktu tiga bulan lagi. Aku memang sedikit merasakan ada hal yang aneh dengan Anto. Anto sudah jarang meneleponku dalam tiga bulan terakhir, dia juga tak membalas SMS dariku. Tapi, aku selalu berusaha berpikiran positif. "Aku harus yakin Anto nggak macem-macem dan mengkhianati aku," pikirku.
Hari ini, aku menunggunya di bandara. Awalnya memang sulit sekali dihubungi untuk menanyakan kapan pulang. Tapi aku membuka halaman pribadinya di internet, dia tulis hari ini akan sampai di Indonesia. Rasanya tidak sabar ingin memeluk dan menanyakan segala ceritanya di sana.
Pesawat landing. Saat Andi keluar dari bandara, aku langsung menitikkan air mata, senang karena melihatnya lagi. Sampai akhirnya aku memeluk dia, dan baru tersadar bahwa dia tak membalas pelukanku. Sikapnya dingin, dan dia hanya berkata, "Nis, kenalin ini Frida." Anto mengenalkan seseorang perempuan kepadaku.
"Da, kamu tunggu di sini dulu ya," kata Anto ke Frida.
"Nis, ada yang mau aku omongin sama kamu," Anto menarikku ke dekat tangga.
"Kenapa?" tanyaku heran. "Eh di sana enak nggak?" lanjutku dengan masih bersemangat.
"Nis, aku minta maaf, aku...."
"Kenapa?"
"Nisa, kamu pasti marah banget, aku rela kok."
"Kenapa sih bikin penasaran aja."
"Maafin aku, aku udah ngerusak kepercayaan kamu."
"Maksudnya?"
"Aku emang brengsek dan nggak bisa dipercaya, aku nggak bisa memenuhi janji aku dua tahun yang lalu di bandara ini juga."
"Aku masih nggak ngerti, apa sih?"
"Aku minum-minum di sana."
Aku menitikkan air mata, dia tidak bisa menjaga perasaan dan kepercayaanku, percuma saja perubahan dalam hubungan kami lima tahun.
"Satu hal lagi," lanjut Anto.
"Maaf aku udah jarang ngubungin kamu, aku bingung.....aku udah ngekhianatin kamu. Aku dilema, kalau aku nelepon kamu, aku pasti ngebohongin kamu."
Aku menangis sambil tertunduk, dan tak bisa berkata apa-apa.
"Frida, ya Frida...aku sudah bersamanya, dan kami sudah tidur bersama, aku harus bertanggung jawab untuk itu."
Aku ingin pingsan, atau mati sekalian. Aku tak sanggup mendengar kata-kata itu. Dunia terasa berputar.
"Jangan pernah muncul lagi dihadapan gue! Gue brusaha banget buat jaga kepercayaan lo, dan sekarang dengan gampang lo ancurin," kataku sambil menunjuk mukanya dengan air mata deras masih mengalir di wajahku. Tamparan keras di pipinya mengakhiri percakapan kami.
Aku berlari menerobos kerumunan orang-orang yang masih melepas kerinduan dengan kerabat, sahabat, atau orang yang mereka sayang, yang mereka temui di bandara. Aku ingin berlari sejauh mungkin. Aku masuk ke sebuah taksi, dan aku pergi dari bandara. [MK]
semua bebas memaknai kehidupan...begitu pula kebebasan dalam memaknai setiap huruf dalam goresan hati dan pikiran ini
.
kadang hati ingin mengungkap...
kadang mulut malas untuk mengucap...
cuma satu cara untuk membuatnya terlontar...
lewat kata-kata ini aku coba bersua...
Tampilkan postingan dengan label buah khayalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buah khayalan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 28 Januari 2010
Jumat, 04 September 2009
Hidup Seperti Mimpi atau Mimpi Seperi Hidup
"Ri! Lo bisa anterin gue nggak? Gue mau belibaju nih. Maklum baru dapet duit dari nyokap", kata Ririn kepada Nuri saat bicara dengan nada riang di telepon. "Oke, sekalian deh gue juga mau beli aksesoris buat hp gue yang baru", jawab Nuri. "Ya udahRi, ntar gue jemput jam 11 tepat ya, bye". Percakapan berhenti saat Ririn dipanggiluntuk sarapan.
"Ma, nanti Nuri mau pergi sama Ririn, mau beli sesuatu buat hp Nuri yang baru, sekalian Nuri mau liat-liat sepatu, katanya sih lagi ada new arrival, oke mam", kata Nuri kepada mamanya yang sedang sibuk membaca koran pagi ini. "Kapan kamu mau pergi Ri?', tanya mama ke Nuri. "Nanti Ririn jemput jam 11 tepat". Mama berjalan ke kamar kerja papa yang jaraknya tidak jauh dari ruang keluarga. "Ma, jadi gimana dong?", Nuri memanggil mamanya yang sedang berjalan. "Sebentar mama tanya papa dulu".
"Tin..tin...", suara klakson mobil RIrin dari depan rumah Nuri. Siang itu Ririn membawa mobil starlet silver. Mobil itu baru didapat Ririn ketika ulang tahun yang ke -16 di bulan Mei kemarin. "Aduh, lo kok lama banget sih keluar rumahnya, bukannya nungguin gue di teras rumah aja", suara Ririn terdengar sinis. "Sori deh non. Trus sekarang kita mau kemana? Gimana kalo ke mall Taman Anggrek aja, kayanya lagi banyak kelauaran barang baru tuh", kata Nuri merayu Ririn agar tidak marah.
Akhirnya tiba juga mereka di mall Taman Anggrek. Perkiran tampak penuh di sana-sini, tapi akhirnya mereka mendapat parkir di arah barat. "Pertama mau kemana dulu nih?", Tanya Ririn ke sobatnya yang berambut panjang model layer masa kini. "Gimana kalo lo anterin gue dulu ke tempat aksesoris hp?", tanya Nuri sambil berjalan melewati restoran Pronto. "Oke", jawab Ririn penuh semangat. "Gue juga mau cari hp baru ah".
Setelah berkeliling mall selama sekitar dua jam, mereka pulang. Di perjalanan mereka bernyanyi-nyayi senang karena semua barang yang mereka inginkan sudah ada di dalam bagasi mobil. Mobil starlet Ririn meluncur cepat di jalanan. Mobil Ririn berhenti di depan rumah besar berpagar tinggi demgan warna hijau tua di daerah perumahan Bintaro Jaya. Nuri turun dari mobil Ririn, "thanks ya Rin". "Oke", jaawab Ririn dan Ririn kembali melanjutkan perjalanan ke rumahnya yang jaraknya hanya beberapa blok dari rumah Nuri.
Sesampainya di depan rumah, san saat Ririn berlalu, Nuri keheranan melihat ada mobil hyundai hitam metalik yang diparkir di pekarangan rumahnya. "Itu mirip mobil yang gue pengen, tapi mobil siapa ya", kata Nuri dalam hati. Ririn bergegas masuk ke dalam rumah.
"Gimana Nuri? Sudah liat mobilnya", kata papanya dan membuat Nuri semakin bingung. "Oh, iya...iya pa", jawab Nuri terbata-bata. "Tapi, emang ada tamu siapa pa?", katanya menambahkan. "Ya punya kamu", jawab papanya santai. "Itu juga kalau kamu mau, kamu boleh bawa ke sekolah, jadi tiap pagi papa nggak harus anter kamu ke sekolah. Mungkin untuk dua minggu ini kamu bisa minta anter pak Kosim, karena papa mau dinas ke Austria, gimana?", kata-kata papa begitu cepat dan membuat Nuri tercengang kegiarangan. "Makasih banyak ya pa. Nanti Nuri pikir-pikir dulu, mau dianter pak Kosim apa nggak. Sekali lagi makasih ya pa".
Selesai mandi, Nuri langsung membuka kantong-kantong plastik belanja yang ia bawa dari Taman Anggrek. Dibukanya satu per satu, sampai akhirnya ia mencoba sepatu barunya dan menelepon Ririn tentang kabar mobil barunya. "Nuri, turun sayang, kita makan malam dulu", suara mama menghentikan percakapannya dengan Ririn.
"Ri, Nuri...bangun, udah jam 9, bangun dng bantuin ibu. Kamu tuh udah gede, harusnya bantuin ibu nggak perlu disuruh, sana kamu nyapu!", suara ibu begitu keras hingga membangunkan Nuri. Ia membuka matanya, ternyata ia masih tinggal di rumah beratap rendah bersama dengan orang tua dan kedua saudaranya..."oh ternyata hanya mimpi". [MK]
"Ma, nanti Nuri mau pergi sama Ririn, mau beli sesuatu buat hp Nuri yang baru, sekalian Nuri mau liat-liat sepatu, katanya sih lagi ada new arrival, oke mam", kata Nuri kepada mamanya yang sedang sibuk membaca koran pagi ini. "Kapan kamu mau pergi Ri?', tanya mama ke Nuri. "Nanti Ririn jemput jam 11 tepat". Mama berjalan ke kamar kerja papa yang jaraknya tidak jauh dari ruang keluarga. "Ma, jadi gimana dong?", Nuri memanggil mamanya yang sedang berjalan. "Sebentar mama tanya papa dulu".
"Tin..tin...", suara klakson mobil RIrin dari depan rumah Nuri. Siang itu Ririn membawa mobil starlet silver. Mobil itu baru didapat Ririn ketika ulang tahun yang ke -16 di bulan Mei kemarin. "Aduh, lo kok lama banget sih keluar rumahnya, bukannya nungguin gue di teras rumah aja", suara Ririn terdengar sinis. "Sori deh non. Trus sekarang kita mau kemana? Gimana kalo ke mall Taman Anggrek aja, kayanya lagi banyak kelauaran barang baru tuh", kata Nuri merayu Ririn agar tidak marah.
Akhirnya tiba juga mereka di mall Taman Anggrek. Perkiran tampak penuh di sana-sini, tapi akhirnya mereka mendapat parkir di arah barat. "Pertama mau kemana dulu nih?", Tanya Ririn ke sobatnya yang berambut panjang model layer masa kini. "Gimana kalo lo anterin gue dulu ke tempat aksesoris hp?", tanya Nuri sambil berjalan melewati restoran Pronto. "Oke", jawab Ririn penuh semangat. "Gue juga mau cari hp baru ah".
Setelah berkeliling mall selama sekitar dua jam, mereka pulang. Di perjalanan mereka bernyanyi-nyayi senang karena semua barang yang mereka inginkan sudah ada di dalam bagasi mobil. Mobil starlet Ririn meluncur cepat di jalanan. Mobil Ririn berhenti di depan rumah besar berpagar tinggi demgan warna hijau tua di daerah perumahan Bintaro Jaya. Nuri turun dari mobil Ririn, "thanks ya Rin". "Oke", jaawab Ririn dan Ririn kembali melanjutkan perjalanan ke rumahnya yang jaraknya hanya beberapa blok dari rumah Nuri.
Sesampainya di depan rumah, san saat Ririn berlalu, Nuri keheranan melihat ada mobil hyundai hitam metalik yang diparkir di pekarangan rumahnya. "Itu mirip mobil yang gue pengen, tapi mobil siapa ya", kata Nuri dalam hati. Ririn bergegas masuk ke dalam rumah.
"Gimana Nuri? Sudah liat mobilnya", kata papanya dan membuat Nuri semakin bingung. "Oh, iya...iya pa", jawab Nuri terbata-bata. "Tapi, emang ada tamu siapa pa?", katanya menambahkan. "Ya punya kamu", jawab papanya santai. "Itu juga kalau kamu mau, kamu boleh bawa ke sekolah, jadi tiap pagi papa nggak harus anter kamu ke sekolah. Mungkin untuk dua minggu ini kamu bisa minta anter pak Kosim, karena papa mau dinas ke Austria, gimana?", kata-kata papa begitu cepat dan membuat Nuri tercengang kegiarangan. "Makasih banyak ya pa. Nanti Nuri pikir-pikir dulu, mau dianter pak Kosim apa nggak. Sekali lagi makasih ya pa".
Selesai mandi, Nuri langsung membuka kantong-kantong plastik belanja yang ia bawa dari Taman Anggrek. Dibukanya satu per satu, sampai akhirnya ia mencoba sepatu barunya dan menelepon Ririn tentang kabar mobil barunya. "Nuri, turun sayang, kita makan malam dulu", suara mama menghentikan percakapannya dengan Ririn.
"Ri, Nuri...bangun, udah jam 9, bangun dng bantuin ibu. Kamu tuh udah gede, harusnya bantuin ibu nggak perlu disuruh, sana kamu nyapu!", suara ibu begitu keras hingga membangunkan Nuri. Ia membuka matanya, ternyata ia masih tinggal di rumah beratap rendah bersama dengan orang tua dan kedua saudaranya..."oh ternyata hanya mimpi". [MK]
Langganan:
Postingan (Atom)