semua bebas memaknai kehidupan...begitu pula kebebasan dalam memaknai setiap huruf dalam goresan hati dan pikiran ini

.


kadang hati ingin mengungkap...
kadang mulut malas untuk mengucap...

cuma satu cara untuk membuatnya terlontar...
lewat kata-kata ini aku coba bersua...

Kamis, 28 Januari 2010

Hilang Rasa Hilang Semua

Hari ini, tak indah buatku. Aku dan Anto akan berpisah untuk sementara waktu. Anto harus melanjutkan sekolah di Spanyol. Hidupnya memang beruntung, dia mendapatkan beasiswa S2 di sana. Aku tidak mau menghalangi keberuntungannya. Tapi jujur, memang tidak mudah, rasanya berat untuk berpisah dan kami hanya akan menjalani LDR (long distance relationship). Menurut beberapa orang, memang tidak sulit menjalani LDR, yang penting modal percaya dan jaga komunikasi. Buatku, rasanya agak sulit, aku adalah orang yang cukup intens berkomunikasi, baik melalui SMS atau menelepon. Ada rasa takut karena selama hampir lima tahun kami menjalani hari-hari bersama, walau tidak berarti di mana ada aku selalu ada Anto, aku dan dia kan juga punya kehidupan masing-masing. Namun, tetap saja, rasa sepi akan hadir di antara hari-hariku.

"Udah, kamu jangan sedih, kita kan masih bisa ketemu, yang penting kita saling percaya dan jaga kepercayaan satu sama lain," Anto menghiburku. Aku hanya terdiam di bangku saat menunggu Anto check in di bandara.
"Tapi kamu beneran nggak akan macem-macem?"
"Iya, sayang, kamu nggak percaya ya sama aku."
Aku tak menjawab, kaena jujur saja, aku memang sedikit ragu dengan janjinya. Lima tahun kami melalui berbagai perubahan ke arah yang lebih baik. Anto menginggalkan kebiasaan minum-minum dengan alasan kesehatan dan karena dia sayang aku. Tapi, aku jadi tidak yakin kalau dia akan menjauhi hal itu saat di Spanyol. Udara Eropa akan dingin, dan rasanya minuman beralkohol adalah alasan untuk menghangatkan badan.
"Hei, kamu kok bengong, aku udah hampir check in nih."
"Sayang, kamu jangan jadi orang lain ya saat kamu pulang nanti," pesanku.
"Iya, aku akan tetap aku."


Hari-hariku sepi. Awal kepergian Anto, aku merasa sangat sepi, maka kusibukkan diriku dengan berbagai kegiatan positif, seperti menulis blog, atau pergi ke daerah-daerah. Hubunganku berjalan baik, cukup baik, bukan sangat baik. Aku tidak mengatakan sangat baik karena memang ada hal yang berbeda. Biaya komunikasi tidak murah, jadi bicara terkadang seperlunya, rasanya tidak mungkin aku menelepon sesering mungkin cuma untuk bilang "udah makan belum?"


Aku berusaha keras untuk positif thinking, dan jujur saja ini tidak mudah. Aku di tanah air, tetap menjaga kepercayaannya. Aku tidak ingin mengkhianati dia.


* * * * *

Suatu malam yang dingin di Spanyol. Anto berada dalam sebuah penginapan teman dengan tujuan mengerjakan tugas kampus. Di lengkapi minuman beralkohol sebagai alasan penghangat tubuh. Akhir mengerjakan tugas, Anto berjalan ke apartemennya. Namun, ia tidak sendiri. Seorang wanita tinggi, putih, langsing, menemaninya di perjalanan. Wanita itu teman kampus Anto yang juga berasal dari Indonesia, yang mungkin hari-hari Anto di sana telah dihabiskan bersamanya. Malam dingin itu bersambung hingga hangatnya tempat tidur Anto. Mereka menghabiskan malam bersama layaknya orang dewasa yang diburu napsu. Keperjakaan Anto pun terbang terbawa malam dingin yang memanas.

* * * * *


Aku masih menghitung hari menunggu Anto pulang. Terkadang aku main ke rumahnya untuk mengobati rasa rinduku ke Anto, walaupun Anto tidak ada, tetapi bertemu dengan keluarganya membuatku senang. Lumayan untuk mengobati rasa rindu.

Aku lihat kalender, dan aku senang karena Anto akan pulang dalam waktu tiga bulan lagi. Aku memang sedikit merasakan ada hal yang aneh dengan Anto. Anto sudah jarang meneleponku dalam tiga bulan terakhir, dia juga tak membalas SMS dariku. Tapi, aku selalu berusaha berpikiran positif. "Aku harus yakin Anto nggak macem-macem dan mengkhianati aku," pikirku.


Hari ini, aku menunggunya di bandara. Awalnya memang sulit sekali dihubungi untuk menanyakan kapan pulang. Tapi aku membuka halaman pribadinya di internet, dia tulis hari ini akan sampai di Indonesia. Rasanya tidak sabar ingin memeluk dan menanyakan segala ceritanya di sana.

Pesawat landing. Saat Andi keluar dari bandara, aku langsung menitikkan air mata, senang karena melihatnya lagi. Sampai akhirnya aku memeluk dia, dan baru tersadar bahwa dia tak membalas pelukanku. Sikapnya dingin, dan dia hanya berkata, "Nis, kenalin ini Frida." Anto mengenalkan seseorang perempuan kepadaku.
"Da, kamu tunggu di sini dulu ya," kata Anto ke Frida.
"Nis, ada yang mau aku omongin sama kamu," Anto menarikku ke dekat tangga.
"Kenapa?" tanyaku heran. "Eh di sana enak nggak?" lanjutku dengan masih bersemangat.
"Nis, aku minta maaf, aku...."
"Kenapa?"
"Nisa, kamu pasti marah banget, aku rela kok."
"Kenapa sih bikin penasaran aja."
"Maafin aku, aku udah ngerusak kepercayaan kamu."
"Maksudnya?"
"Aku emang brengsek dan nggak bisa dipercaya, aku nggak bisa memenuhi janji aku dua tahun yang lalu di bandara ini juga."
"Aku masih nggak ngerti, apa sih?"
"Aku minum-minum di sana."
Aku menitikkan air mata, dia tidak bisa menjaga perasaan dan kepercayaanku, percuma saja perubahan dalam hubungan kami lima tahun.
"Satu hal lagi," lanjut Anto.
"Maaf aku udah jarang ngubungin kamu, aku bingung.....aku udah ngekhianatin kamu. Aku dilema, kalau aku nelepon kamu, aku pasti ngebohongin kamu."
Aku menangis sambil tertunduk, dan tak bisa berkata apa-apa.
"Frida, ya Frida...aku sudah bersamanya, dan kami sudah tidur bersama, aku harus bertanggung jawab untuk itu."
Aku ingin pingsan, atau mati sekalian. Aku tak sanggup mendengar kata-kata itu. Dunia terasa berputar.
"Jangan pernah muncul lagi dihadapan gue! Gue brusaha banget buat jaga kepercayaan lo, dan sekarang dengan gampang lo ancurin," kataku sambil menunjuk mukanya dengan air mata deras masih mengalir di wajahku. Tamparan keras di pipinya mengakhiri percakapan kami.

Aku berlari menerobos kerumunan orang-orang yang masih melepas kerinduan dengan kerabat, sahabat, atau orang yang mereka sayang, yang mereka temui di bandara. Aku ingin berlari sejauh mungkin. Aku masuk ke sebuah taksi, dan aku pergi dari bandara. [MK]

2 komentar:

  1. Memang tak semua orang bisa menjaga hubungan jarak jauh, hanya komitmen akan kesetiaan yang bisa menjaganya. Ceritanya sedih mba...mudah-mudahan ini bukan pengalaman pribadi..he..he

    Salam hangat selalu...

    BalasHapus
  2. syukurnya memang dan jangan sampe jadi pengalaman pribadi...biarin ini jadi buah khayalan aja ;)

    BalasHapus

leave your comment here!